Sabtu, 21 April 2012

Pisang Gapit


Bagi anda yang penggemar berwisata kuliner saya menyarankan untuk mencoba hidangan ini. Pisang gapit sanag cocok dinikmati disore hari terlebih pada saat hujan dan dihidangkan selagi panas, hmmm...nikmat.

Pisang gapit jika anda yang berasal dari daerah Jawa Barat pasti tahu Colenak (Dicocol Enak), pisang gapit kurang lebih seperti colenak dari Jawa Barat. Bahan-bahannya berupa Pisang yang setengah matang, gula merah, dan nangka. Kenapa disebut pisang gapit? Karena dalam proses pembuatannya pisangnya digapit/ dicapit lalu dipipihkan lalu dibakar diatas bara arang.

Setelah matang lalu disiram dengan 'saus' / adonan dari gula merah dan potongan nangka. Nah, bedanya dengan colenak adalah penggunaan kacang tanah. Jika dalam colenak 'saus' gula merahya ditambahkan taburan kacang tanah bubuk.

Di Kota Minyak pisang gapit cukup terkenal dan dengan mudah bisa ditemukan, terlebih jika sore hari penjualnya cukup banyak disekitar pantai melawai dan dekat Pelabuhan Semayang. Penggemarnya pun cukup banyak, oh iya selain rasa yang standar untuk variasi rasa saat ini banyak penjualnya yang menambahkan variasi rasa dengan pilihan Pisang Gapit Keju dan Pisang Gapit Coklat. Dua-duanya sangat menggugah selera. Silahkan dicoba dan diicip jika anda kebetulan berkunjung ke Balikpapan.

Jumat, 20 April 2012

Lulusan SMK Vs Lulusan S1


Menarik untuk dibahas tentang daya serap industri terhadap lulusan S-1 dan lulusan SMK. Sangat menarik, karena jika diperhatikan daya serap industri terhadap para lulusan S-1 dan SMK sangat tipis bahkan jika diperhatikan secara seksama lulusan SMK lebih banyak dicari terutama oleh industri yang mengutamakan hard skill.

Sabtu, 14 April 2012

Bahaya Madu Untuk Bayi


Madu memiliki sejuta manfaat. Sejak berabad-abad silam, nutrisinya menjadi andalan dalam penyembuhan dan perawatan kecantikan. Asal memperhatikan aturan konsumsinya, madu sangat menunjang kesehatan tubuh. Dr. Arianti Widodo, SpA, mengingatkan agar madu tak diberikan kepada anak usia di bawah satu tahun. Kandungan Clostridium Botulinum atau Botulinum Toxin dalam madu memiliki efek yang berpotensi merusak tubuh anak di usia bayi.

Senyawa tersebut berperan melumpuhkan otot-otot dan memiliki efek botoks untuk menghilangkan kerutan di wajah. Anak usia satu tahun ke bawah belum memiliki kemampuan yang baik untuk merespons senyawa ini sehingga dapat menyebabkan kejang otot, seperti otot paru-paru.
"Madu lebih baik dikonsumsi anak berusia di atas dua tahun, karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah lebih kuat dibanding anak yang berumur di bawah satu tahun," kata Arianti, dalam sebuah diskusi tumbuh kembang anak 'Family's Day Out', di Jakarta. Selain faktor usia, jenis madu juga perlu menjadi perhatian. Sebuah studi yang dipublikasikan Live Strongmemperlihatkan efek buruk madu murni yang berpotensi memicu reaksi alergi atau keracunan makanan seperti, kram perut, diare, mual, muntah dan demam.

Alasannya, madu murni tidak melewati tahap pasteurisasi sehingga spora dan serbuk sari berpotensi tumbuh di dalamnya. Seperti kita tahu, madu merupakan zat manis pekat yang diproduksi lebah, salah satu jenis serangga pemakan nektar bunga dan serbuk sari.
National Institutes of Health merekomendasikan agar mengonsumsi madu yang telah dipasteurisasi untuk mencegah efek buruk. Terutama untuk anak usia satu tahun ke bawah, karena efek alergi bisa sangat serius.

Berdasarkan peringatan dari Food Standards Agency (FSA), madu mengandung spora botulisme yang bisa menyebabkan penyakit serius bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan pada anak. Sebab, anak-anak di bawah usia satu tahun umumnya tidak memiliki kemampuan untuk melawannya.

Kamis, 05 April 2012

Sejarah Pelacuran di Indonesia


Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull; 1997:1-22). Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah.

Pada masa itu, konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia (binatara). Kekuasaan raja Mataram sangat besar. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya, tidak hanya tanah dan harta benda, tetapi juga nyawa hamba sahaya. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri.

Raja mempunyai kekuasaan penuh. Seluruh yang ada di atas Jawa, bumi dan seluruh kehidupannya, termasuk air, rumput, daun, dan segala sesuatunya adalah milik raja. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan; dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan.

Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain, ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana.

Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan; dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota.

Daerah-daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Karawang, dan Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah; serta Blitar, Malang, Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur; dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. (Hull, at al. 1997:2).

Makin banyaknya selir yang dipelihara, menurut Hull, at al. (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. Dari sisi ketangguhan fisik, mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam masyarakat yang mempunyai selir. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan, seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Oleh karena itu, status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir.

Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa, kenyataan juga terjadi di seluruh Asia, di mana perbudakan, sistem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI, dalam Hull; 1997:3).

Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda (Hull; 1997:3). Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara.

Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu.

Perkimpoian antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. (Hull; 1997:4).

Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan “baik-baik”.

Pada tahun 1650, “panti perbaikan perempuan” (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan “tanpa izin” menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI, dalam Hull; 1997:5).

Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852.

Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8, 9, 10, 11).

Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil.

Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri.


Kamis, 29 Maret 2012

Ekor yang Terputus

Alkisah, suatu hari di tepian parit sebuah desa, tampak seekor cicak kecil berusaha berlari menghidari sergapan ular yang sedang kelaparan. Rimbunnya rumput di sekitar situ membantu cicak menyelamatkan diri, tetapi usaha si cicak tidak bertahan lama... Hup, ekor cicak pun tertangkap sang ular. Dengan kekuatan seadanya, cicak berupaya dan terus berjuang untuk meloloskan diri dari ular itu. Demi menyelamatkan nyawanya, cicak menggunakan upaya terakhir dengan memutuskan ekornya dan segera melarikan diri dengan berlari sekuat tenaganya.

Kebetulan kejadian itu dilihat oleh seorang petani. Karena merasa kasihan, berkatalah si petani kepada si cicak. "Hai cicak kecil, sungguh beruntung kamu bisa menyelamatkan diri dari santapan si ular. Namun sayang sekali ekormu harus terputus. Apakah kamu merasa sangat kesakitan?"

Dengan mata kecilnya, si cicak kecil menatap ke mata simpati si petani sambil menganggukkan kepalanya. Terlihat samar matanya berkaca-kaca. Si petani tersentuh hatinya dan menawarkan bantuannya kepada cicak itu. "Kemarilah cicak, aku akan membantu membalut lukamu. Aku punya obat luka yang mujarab untuk menyembuhkan lukamu." Si petani lalu mengeluarkan sebungkus obat. "Terima kasih, Pak Petani. Kami kaum cicak, biarpun kecil dan lemah tetapi telah dibekali oleh Yang Maha Kuasa kemampuan menyelamatkan diri dari bahaya dengan memutuskan ekor di saat yang genting. Walaupun kami merasakan kesakitan saat melakukan itu, tetapi secara alami, alam akan membantu menyembuhkan dan menumbuhkan ekor seperti semula. Kebaikan hari Pak Tani membalut lukaku, justru akan menghambat pertumbuhan ekor baruku. Terima kasih atas kebaikan hatimu. Aku sendiri sangat bersyukur atas rasa sakit ini. Itu menyadarkan kepadaku bahwa aku harus lebih menghargai kehidupan ini dengan berjuang dan mensyukuri setiap hari yang masih tersisa untukku. Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa pak Tani," si cicak merangkak menjauh sambil memikul rasa sakit yang sangat.

Jauh di dalam hatinya, cicak tahu, semua penderitaan ini hanyalah sebuah proses pendewasaan yang harus dilalui. Kerabat Imelda....Kalau menghadapi kesulitan, cobaan, kita hanya bisa merengek, mengeluh minta dikasihani maka nasib tidak akan berubah menjadi lebih baik. Justru harus belajar keras pada diri sendiri untuk tetap tegak, tegar dalam menghadapi setiap masalah yang muncul di hadapan kita. Penderitaan hidup dan rasa sakit tidak akan membuat kehidupan kita berakhir dengan sia-sia, selama kita sadar bahwa di setiap penderitaan dan rasa sakit selalu ada hikmah yang bisa diambil. Yakni sebuah proses untuk menguatkan dan mendewasakan kita, agar kita tumbuh sebagai pribadi yang lebih dewasa dan siap berjuang demi menciptakan kehidupan sukses yang lebih baik dan lebih luar biasa!

Minggu, 18 Maret 2012

Fakta tentang "Solo Sex"


Kepuasan bercinta tak hanya bisa Anda dapatkan dari pasangan. Anda juga bisa "beraksi" memuaskan diri sendiri. Simak 11 fakta tentang solo sex ini.

1. Solo sex sama dengan masturbasi.
Solo sex ialah cara mencapai kepuasan bercinta tanpa kehadiran pasangan. Banyak yang menganggapnya sebagai perilaku seks menyimpang. Faktanya, menurut penuturan Dr Deidre dalam The Sun, ini merupakan hal normal yang kerap dialami perempuan maupun pria. Hanya saja, sebagian perempuan enggan untuk membicarakan atau melakukannya karena malu atau takut.

2. Banyak cara yang digunakan untuk masturbasi.
Menggunakan jari dan vibrator merupakan metode yang paling banyak digunakan perempuan dalam bermasturbasi. Hasil survei yang dilakukan oleh Debby Herbenick, direktur Center for Sexual Health Promotion Indiana University terhadap 2.056 perempuan usia 18-60 tahun menyatakan, lebih dari 50 persen responden menggunakan vibrator, sebagian menggunakan jari, dan ada pula yang menggunakan ujung sikat gigi, hingga gagang sisir rambut. Walau begitu, beberapa pakar lain mengkhawatirkan terjadinya infeksi akibat pemilihan dan pemakaian alat yang tidak higienis dan aman.

3. Menggunakan vibrator itu normal.
Masturbasi dengan vibrator terbilang normal dengan catatan hanya sesekali melakukannya. Menurut psychoanalyst Dr Frank Sommers, terlalu sering menggunakan vibrator bisa menimbulkan efek samping, salah satunya membuat Anda kebal terhadap rangsangan yang diberikan pasangan. Kata lainnya, vibrator dinilai lebih memuaskan dibandingkan Mr P.

4. Dampak positif bagi kesehatan.
Bola dilakukan dengan cara yang tepat, masturbasi atau solo sex ternyata memberi dampak positif bagi kesehatan tubuh. Yakni mampu memperbaiki mood, mengurangi stres, dan membuat tidur lebih nyenyak. Seperti yang diungkapkan Kathleen Segraves, sex therapist dari Metrohealth Medical Center Ohio, solo sex membuat kita lebih fokus dengan kepuasan sendiri dibanding terus memikirkan kepuasan pasangan.

5. Disarankan oleh beberapa pakar.
Bagi perempuan yang sulit mencapai orgasme saat bercinta dengan pasangannya, beberapa pakar menyarankan untuk melakukan solo seks demi kehidupan seks yang lebih baik. Seperti dilansir Journal of Sexual Medicine, vibrator bisa membantu perempuan dalam meningkatkan gairah, memperbaiki pelumasan vagina, dan mengurangi rasa sakit yang sering dialami saat berhubungan seksual.

6. Bisa mengurangi rasa sakit.
Masturbasi bisa mengurangi keram perut saat menstruasi dan mood jelek saat PMS, seperti perasaan ingin marah-marah hingga bad mood. Di sisi lain, banyak yang percaya kalau masturbasi bisa menjadi penyebab migrain. Namun beberapa pakar percaya, orgasme (baik melalui seks solo atau dengan pasangan) bisa mengurangi rasa sakit akibat migrain atau sakit kepala.

7. Menggunakan air liur berbahaya.
Tim peneliti dari University of Michigan menyebutkan, menggunakan air liur sebagai pelumas saat melakukan seks solo dengan jari (membasahi jari dengan air liur sebelum dimasukkan ke dalam vagina) berisiko tinggi terkena infeksi jamur. Pasalnya, cara ini bisa mengganggu keseimbangan bakteri di mulut rahim. Sebaiknya, pastikan jari dalam keadaan bersih, tak ada bagian kuku yang tajam, serta gunakan pelumas yang terjamin keamanannya.

8. Nonton film bisa memicu orgasme.
Masturbasi ternyata bisa dicapai tanpa menyentuh diri sendiri atau menggunakan alat bantu. Begitulah hasil studi yang dilakukan beberapa peneliti dari Rutgers University. Setelah meminta para responden membayangkan adegan mencapai kepuasan dengan pasangan, atau menonton film yang bisa memicu rangsangan dengan menggunakan alat MRI, hasil scan memperlihatkan kalau otak mereka berfungsi sama seperti saat orgasme dengan pasangannya.

9. Pemicu jerawat.
Masturbasi bisa menjadi pemicu timbulnya jerawat bagi sebagian perempuan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari University Clinic Essen Germany, menunjukkan rangsangan seksual bisa meningkatkan produksi hormon testosteron yang bisa memicu jerawat.

10. Merusak selaput dara.
Bagi mereka yang tak pernah melakukan hubungan seksual sebelumnya, seks solo dengan penetrasi berisiko merobek selaput dara. Namun, kelenturan selaput dara tiap perempuan berbeda, dari yang mudah robek hingga sangat lentur.

11. Sejak Romawi kuno.
Konon, seks solo diyakini sudah ada sejak masa Romawi Kuno dengan sebutan Ophidicism. Yakni masturbasi yang dilakukan oleh beberapa perempuan dengan memasukkan ekor ular atau belut ke dalam vagina, dan mencapai kepuasan saat ekor itu bergerak. Cara ini bisa menyebabkan kematian di samping menjadi satu bentuk penyimpangan seksual.

Sabtu, 17 Maret 2012

Gelap, Tak Akan Jadi Gelap Jika Kita Memejamkan Mata

Seorang guru berkata pada muridnya, "wahai murid, saat kau bermeditasi nanti, jangan biarkan seekor harimau masuk ke dalam pikiranmu. Apapun yang muncul di hadapanmu, asal bukan harimau. Jangan pernah ijinkan harimau muncul di pikiranmu."

Si murid pun mulai cemas memikirkan perkataan gurunya dan merasa ketakutan. Bagaimana bila ternyata harimau itu memang muncul. Apa yang kira-kira akan terjadi ya? Apakah ia akan selamat ? Apakah harimau itu akan menerkamnya? Ketakutan demi ketakutanmu mulai mengganggu pikirannya, hingga tiba saatnya ia harus bermeditasi.

"Guru... guru...." teriak si murid. "Maafkan aku guru, tapi harimau itu memang muncul. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku ketakutan dan langsung bangun dari meditasiku. Aku takut harimau itu akan menerkamku," kata si murid sambil terisak.

Sang gurupun hanya tertawa terkekeh. Tentu saja ia tak terkejut dengan apa yang dilaporkan si murid kepadanya. Ia sudah bisa menebak bahwa muridnya akan ketakutan dan justru si harimau muncul dalam meditasinya.

"Anakku... sebenarnya harimau itu hanya ada di pikiranmu. Ia tidak akan menyakitimu, namun bayanganmulah yang membuatmu ketakutan kalau-kalau ia menyakitimu," ungkapnya dan melanjutkan kembali tawanya.

Apabila sang guru tak menceritakan tentang si harimau, maka si murid tak akan berpikir negatif. Apabila si murid tak berpikiran negatif, maka ia tak akan ketakutan sampai membuyarkan meditasinya. Inilah yang harus dipetik oleh orangtua dan anak-anak. Sebagai orangtua, hendaknya kita tidak menjejalkan rasa takut kepada anak-anak. Tidak pula membuat mereka takut akan gelap, menceritakan monster atau hantu yang akan memakan mereka jika mereka tidak menuruti nasehat orangtua, atau menakut-nakuti mereka saat mereka akan belajar berjalan.

Orangtua, hendaknya memberikan pendampingan dan pengawasan, mengajarkan bagaimana cara melakukan sesuatu hal dengan benar agar anak-anaknya tidak selalu hidup dalam ketakutan. Dan demikian juga anak-anak, hendaknya tidak selalu memunculkan pikiran-pikiran buruk terhadap suatu hal yang akan menimpa mereka. Nasehat orangtua adalah sebuah bimbingan dan pengingat, bukan ancaman yang membuat diri jadi takut dan nyali menciut. Gelap, tak akan menjadi gelap bila kita memejamkan mata. Gelap, tak akan lagi menakutkan bila kita percaya tak ada sesuatu yang menakutkan di sana.


Tips Menghadapi Ujian

Sebentar lagi kalian yang duduk di bangku kelas 3 SMA akan menghadapi ujian akhir nasional. Setelah lama berada di bangku sekolah, ujian akhir yang dinanti akhirnya tiba.

Sudah siapkah kalian menghadapinya? Apakah kalian sudah mempelajari semuanya di luar kepala? Mengutip berita dari survivingcollegelife.com, di bawah ini akan diberikan tips-tips untuk menghadapi ujian akhir di sekolah.


1. Tandai Kalender Hari Besarmu

Memberi tanda pada hari besar yag akan kalian hadapi akan selalu mengingatkan kalian mengenai kapan ujian tersebut akan berlangsung.

2. Atur Jadwal Belajar


Membuat jadwal belajar ujian akan mempermudah kalian mengaturwaktu untuk mneghadapi ujian. Prioritaskan mana pelajaran yang lebihdahulu menjadi kepentingan utama kalian.

3. Jaga Kesehatan Tubuh


Makan makanan yang sehat dan bergizi (buah, sayur, karbohidratdan protein) dan jadwalkan dengan baik jam tidurmu.

4. Siapkan Perlengkapan


Semua perlengkapan dalam ujian harus dipersiapkan dengan baikmulai dari buku, alat tulis, dan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk ujian.

5. Buat Ringkasan


Membuat ringkasan bukan bertujuan untuk dijadikan contekan dalamujian. Tetapi ringkasan mempermudah kalian untuk mempelajari bahan-bahan ujian yang akan dikerjakan.

6. Tulis Ulang Catatanmu


Menulis ulang catatan dapat membantumu mengingat kembalipelajaran apa yang pernah diajarkan oleh guru di kelas.

7. Kreatif


Setiap orang punya gaya belajar yang berbeda-beda, bebrapa orang menyukai belajar dengan cara melihat langsung sedangkan sebagian orang belajar dengan cara mendengar. Cari tahu mana yang merupakansesuai denganmu dan lakukanlah. Hal ini akan mempermudah kaliandalam menentukan gaya belajarmu.


8. Jujur


Jangan coba-coba mencontek atau meminta kepada teman kalianuntuk mengerjakan ujian. Jika kalian tetap melakukannya pastinyakalian sudah tahu dong apa konsekuensi yang harus ditanggung.

9. Rehat Sejenak


Cari waktu untuk jalan-jalan, berkumpul bersama teman-teman,menonton bioskop akan emmbanti kalian untuk myegarkan pikiranmu untukmenghadapi ujian yang akan dijalankan.

10. Selamat menghadapi ujian.

Jumat, 16 Maret 2012

Cantik-cantik Botak

Bosan dengan rambut panjang, Gadis ini memotong rambutnya hingga botak.
Cek Ke TKP:








Cewek Paling Pede di Dunia

Langsung Aja Cek Ke TKP, Salut ma Cewk ni...