Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2012

Cinta Itu....

Cinta, cinta dan cinta. Kata Cinta selalu menjadi topik menarik dan tidak pernah habis dipuja dari dulu hingga sekarang bahkan mungkin sampai akhir zaman. Jutaan bahkan milyaran kata sanjungan, kata romantis tentang cinta sudah diciptakan dan diungkapakan para pecinta. Cinta dalam perjalanannya tidak selalu indah, ada duka, ada nestapa, ada sakit, ada air mata dan ada perjuangan didalamnya.

Cinta ternyata bukan hanya antara 2 orang manusia yang menjalin kasih. Tapi ternyata dibelakangnya banyak faktor pendukung cinta tersebut agar bisa berakhir indah dan membahagiakan. Saya yakin ada banyak orang menganalisa hal ini, namun sedikit saya hendak berbagi tentang unsur-unsur pembentuk cinta agar berakhir indah.

1. Agama/ Keyakinan
Cinta ternyata juga melibatkan agama dan kepercayaan, tidak percaya coba saja anda berpacaran lalu berencanalah untuk menikah, disini kita akan menemukan batu sandungan bahkan benteng yang sangat tinggi dan akan sangat sulit untuk dilewatinya. Selain karena konstitusi tidak mengakui pernikahan agama juga karena di Indonesia hal ini masih tabu.

2. Orang Tua
Cinta juga ternyata melibatkan orang tua, ya orang tua. terkadang kita akan berselisih paham dengan orang tua kita terkait dengan pilihan kita. Kadang yang kita mau berbeda dengan kriteria orang tua. Kita rasanya akan sangat sulit berbahagia tanpa restu dari orang tua terkait cinta yang akan dibina. Kita tentu tak ingin bahagian diatas tangis orang tua kita.

3. Kelurga Besar
Satu lagi, keluarga besar. Keluarga besar juga terkadang menjadi batu ganjalan. Kadang mereka kurang setuju dengan pilihan kita, kadang mereka meresa kurang sreg atau merasa tidak cocok. Memang tidak sevital yang kedua diatas tadi tapi tetap saja, karena kita hidup bersama mereka meski tidak setiap hari. Tapi pasti kita akan sering berinteraksi dengan mereka.

So, ternyata cinta itu komplek. Bukan cuma rasa, bukan cuma antara aku dan kamu tapi juga antara aku, kamu, Tuhan, Orang tua dan Keluarga. Semoga kebahagiaan cinta dapat kita miliki dengan selaras tanpa ada konflik dan air mata duka.

Jumat, 24 Februari 2012

Merawatmu di Usia Senja

Robertson McQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan merawat istrinya Muriel yang sakit alzheimer yaitu gangguan fungsi otak. Muriel sudah seperti bayi,tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk makan, mandi dan buang airpun ia harus dibantu. Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yg sangat istimewa baginya.

Pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel dan di luar kesadaran, Muriel malah menyerakkan air seninya sendiri, sehingga Robertson kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata dalam hatinya, “Apa gunanya saya memukulnya, walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya.

Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, ya Tuhan.” Tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, hari itu adalah hari istimewa untuk Robertson dan Muriel, karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson melamar Muriel. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel. Menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, “Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin.”

Pagi harinya, ketika Robertson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel tidak pernah berbicara, memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, “Sayangku … sayangku …”

Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu. “Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan ?” tanya Muriel. Setelah melihat anggukan dan senyum diwajah Robertson, Muriel berbisik, “Aku bahagia !” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel kepada Robertson.

Diambil dari Milis Motivasi